Ensiklopedia Bentuk Puisi
Ciri, pola rima dan contoh pantun, syair, gurindam, haiku, soneta dan lainnya.
Pantun
Puisi lama Melayu yang paling dikenal.
- Satu bait terdiri atas 4 baris.
- Setiap baris 8–12 suku kata.
- Pola rima a-b-a-b.
- Baris 1–2 adalah sampiran (biasanya gambaran alam), baris 3–4 adalah isi.
Contoh (Pantun lama)
Buah cempedak di luar pagar Ambil galah tolong jolokkan Saya budak baru belajar Kalau salah tolong tunjukkan
Pantun berkait
Rangkaian pantun yang bait-baitnya saling menyambung.
- Terdiri atas beberapa bait, masing-masing 4 baris berpola a-b-a-b.
- Baris ke-2 dan ke-4 sebuah bait diulang menjadi baris ke-1 dan ke-3 bait berikutnya.
- Dikenal juga dengan nama pantun berantai.
Karmina (pantun kilat)
Pantun yang dipadatkan menjadi dua baris.
- Terdiri atas 2 baris: baris pertama sampiran, baris kedua isi.
- Pola rima a-a.
- Sering dipakai untuk sindiran atau lelucon singkat.
Contoh (Karmina lama)
Dahulu parang, sekarang besi Dahulu sayang, sekarang benci
Talibun
Pantun dengan jumlah baris genap lebih dari empat.
- Jumlah baris 6, 8, 10 atau lebih (selalu genap).
- Separuh pertama sampiran, separuh kedua isi.
- Pola rima 6 baris: a-b-c-a-b-c.
Contoh (Contoh RimaKata)
Pergi ke pasar membeli kain Kain dibeli warna biru Dibawa pulang ke rumah Kalau hendak menjadi pemain Berlatihlah dengan tekun selalu Agar tak kalah dan menyerah
Syair
Puisi lama berbentuk cerita atau nasihat, berasal dari tradisi Arab-Persia yang berkembang di Melayu.
- Satu bait 4 baris.
- Setiap baris 8–12 suku kata.
- Pola rima a-a-a-a.
- Semua baris adalah isi; tidak ada sampiran. Bait-baitnya sering bersambung membentuk cerita.
Contoh (Contoh RimaKata)
Wahai ananda dengarlah pesan Ilmu dicari jangan dilupakan Rajin belajar sepanjang zaman Agar hidupmu penuh kebaikan
Gurindam
Puisi nasihat dua baris dari tradisi Melayu, dipopulerkan oleh Raja Ali Haji lewat Gurindam Dua Belas (1847).
- Satu bait 2 baris.
- Pola rima a-a.
- Baris pertama berisi syarat atau sebab, baris kedua berisi akibat atau jawaban.
Contoh (Gurindam Dua Belas, pasal 3 (Raja Ali Haji))
Apabila terpelihara mata, sedikitlah cita-cita.
Haiku
Puisi pendek asal Jepang yang menangkap satu momen, sering tentang alam dan musim.
- 3 baris.
- Pola suku kata 5–7–5.
- Tidak memakai rima.
Contoh (Contoh RimaKata)
Embun di daun fajar belum terbangun sunyi di sawah
Soneta
Puisi 14 baris asal Italia, masuk ke sastra Indonesia lewat para penyair Pujangga Baru.
- Terdiri atas 14 baris.
- Gaya Italia (Petrarca): dua kuatren a-b-b-a a-b-b-a, lalu dua terzina, misalnya c-d-e c-d-e.
- Gaya Inggris (Shakespeare): tiga kuatren a-b-a-b c-d-c-d e-f-e-f dan penutup dua baris g-g.
- Bagian akhir biasanya berisi kesimpulan atau balikan dari bagian awal.
Limerik
Puisi jenaka lima baris dari tradisi Inggris.
- 5 baris dengan pola rima a-a-b-b-a.
- Baris 3 dan 4 lebih pendek dari baris lainnya.
- Isinya lucu, sering diakhiri kejutan.
Contoh (Contoh RimaKata)
Ada kucing bernama Si Belang Suka tidur di atas ranjang Saat tikus lewat Ia pura-pura lambat Lalu tidur lagi sampai petang
Cinquain
Puisi lima baris yang dikembangkan penyair Amerika Adelaide Crapsey.
- 5 baris.
- Pola suku kata 2–4–6–8–2.
- Tidak wajib berima.
Contoh (Contoh RimaKata)
Hujan turun pelan mengetuk jendela pesan kecil dari laut basah
Puisi bebas (puisi modern)
Puisi yang tidak terikat jumlah baris, suku kata maupun pola rima.
- Bentuk mengikuti isi dan perasaan penyair.
- Rima tetap boleh dipakai, tetapi tidak harus berpola tetap.
- Kekuatannya ada pada diksi, citraan dan irama.
Puisi lama dan puisi baru
Pantun, karmina, talibun, syair dan gurindam termasuk puisi lama: terikat aturan jumlah baris, suku kata dan rima, dan awalnya diwariskan secara lisan. Soneta, haiku, limerik dan cinquain adalah bentuk dari tradisi lain yang ikut dipakai penulis Indonesia. Puisi bebas tidak terikat aturan bentuk.
Gunakan visualisasi pola rima untuk memeriksa apakah puisimu sudah sesuai pola bentuk yang dipilih, lalu uji pemahamanmu di kuis jenis rima.